Situbondo, Infopol.co.id - Sejumlah pohon kayu jati di kawasan hutan Perhutani diduga ditebang tanpa ijin di beberapa petak salah satunya tepatnya di Petak 40 Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo. Raibnya sejumlah besar pohon-pohon inipun menjadi perbincangan di kalangan warga sekitar dan mengundang perhatian beberapa aktifitas di Kabupaten tersebut, (Sabtu, 15/08/2026).
Beredar dan viral video di media sosial perihal dugaan hilangnya kayu jati di kawasan perhutani itu menjadi sorotan masyarakat bukan karena kondisi hilangnya, tapi diduga dikarenakan adanya pernyataan diduga dari salah satu pihak Perhutani yang menyebut kondisi tersebut bukan akibat pencurian, melainkan diduga merupakan “Bencana Alam”.
Dikonfirmasi via telepon, Ketua Forum Trabas Deny Rico menyampaikan, kondisi fisik kayu di lokasi seharusnya bisa menjadi acuan untuk membedakan antara pohon yang tumbang akibat faktor alam atau sengaja ditebang.
“Kalau memang itu bencana alam, tentu harus bisa dibuktikan dengan kondisi di lapangan. Kalau kayunya tumbang karena bencana alam, kenapa yang terlihat justru banyak tinggal tunggaknya? Kalau memang ada kayu yang hilang, harus dijelaskan secara terbuka ke mana kayu tersebut,” beber pria ini.
Dirinya juga mempertanyakan tanggung jawab pihak yang berwenang akan kawasan tersebut (perhutani - red).
"Pertanyaannya, apakah pihak Perhutani tidak bisa membedakan antara kayu yang tumbang karena bencana dengan kayu yang diduga dicuri? Dan bagaimana pertanggung jawaban?. Anak SD pun bisa membedakan, itu pohon bekas di potong dan tumbang karena alam," ujar Deny.
Kasus tumbangnya sejumlah besar pohon jati di kawasan Perhutani itu viral setelah sebuah akun medsos mengunggahnya di salah satu platform media sosial. Tanpa gentar, sang pemilik akun pun menantang dan siap adu data terkait fakta di lapangan. Bahkan, menurut informasi di lapangan, sejumlah pohon jati diduga raib kembali saat pemberitaan ini dirilis.
Kini publik menunggu penjelasan yang lebih terang dari pihak Perhutani. Sayangnya, saat berita ini di rilis, masih belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait khususnya Perhutani. (TD/ red - bersambung)

Komentar

