infopol.co.id Kontak Redaksi- 085784424805 wa Tetes Air Mata Ibu Tuna Netra Titipkan Anak di Acara Peresmian Sekolah Rakyat di Bumi Blambangan

Iklan Semua Halaman

Iklan 928x90

Hot Post

Tetes Air Mata Ibu Tuna Netra Titipkan Anak di Acara Peresmian Sekolah Rakyat di Bumi Blambangan

Rabu, 01 Oktober 2025

 



Banyuwangi - Infopol.co.id 

Suasana haru mewarnai pembukaan Sekolah Rakyat di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Muncar, Banyuwangi. Sebanyak 73 anak dari berbagai latar belakang diantar orang tua dan keluarganya untuk menempuh pendidikan berasrama di sekolah gratis Program Nasional  Presiden Prabowo Subianto ini, (Rabu 01/10/2025).


Momen paling menyentuh datang dari Nur Wahidah (50), seorang ibu tunanetra asal Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. Air matanya menetes saat disapa dan diajak berbincang oleh perempuan nomor satu di Bumi Blambangan itu. 


Dengan suara lirih, Nur Wahidah menceritakan kehidupannya. Ia memiliki empat anak. Anak sulungnya telah meninggal dunia, anak kedua sudah bekerja, anak ketiga masih duduk di bangku SMA, sementara yang ia antar ke Sekolah Rakyat adalah Rehan Meizi, anak bungsunya yang kini kelas 5 SD.


Sejak sembilan tahun lalu, penglihatannya hilang. Suaminya pergi meninggalkan keluarga sejak Rehan masih berusia sebulan. Sejak itu, Wahidah berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya dengan penghasilan seadanya dari jasa pijat.


“Sudah sembilan tahun saya kehilangan penglihatan. Untuk hidup, saya hanya bisa bekerja sebagai tukang pijat. Dengan adanya Sekolah Rakyat ini, saya merasa sangat terbantu. Semoga anak saya bisa maju, berkembang, dan menjadi orang yang sukses kelak,” ungkapnya.


Mendengar itu, Ipuk menguatkan. “Tetaplah semangat ngih Bu. InsyaAllah anak-anak ibu bisa menggapai cita-citanya. Bapak Presiden melalui Sekolah Rakyat ini ingin semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh Pendidikan,” kata Ipuk menguatkan.


Puluhan orang tua lain juga menyimpan asa yang sama. Tutik (54), warga Songgon, tampak bersemangat ketika mengantar anaknya, Hidayatur Ramadan, yang kini duduk di kelas 2 SMA, untuk mulai bersekolah di Sekolah Rakyat.


“Perasaan saya senang sekali setelah tahu tempatnya nyaman. Daripada di rumah main terus, di sini anak saya lebih terarah. Hati saya juga lega, apalagi semuanya gratis,” tutur Tutik.


Sejak sembilan tahun lalu, Tutik harus berjuang seorang diri setelah suaminya meninggal dunia. Untuk menghidupi keluarga, ia berjualan es dan camilan di sekitar desanya. Meski penghasilan pas-pasan, semangatnya tak pernah surut demi masa depan anak-anaknya.


Bupati Ipuk Fiestiandani mendoakan agar cita-cita Yesi dan para siswa lain dapat terwujud.


“Semoga apapun cinta cita kalian mudah-mudahan bisa diwujudkan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jadikan Sekolah Rakyat ini jadi langkah awal untuk mewujudkan harapan apapun di masa depan,” kata Ipuk. (IP TeDe/ Humas).