Tulungagung - Infopol.co.id
Nyaris kehilangan nyawa akibat kelalaian perawat di ruang Anggrek Cris.1. Pasien yang seharusnya bersiap menjalani operasi amputasi lutut justru mengalami insiden serius saat menjalani terapi infra red.
Menurut keterangan, kabel-kabel alat terapi infra red terbelit dan menimbulkan korsleting. Percikan api muncul dan mengenai tangan pasien, menyebabkan luka bakar hingga melepuh. Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam sebelum jadwal operasi amputasi kaki akibat komplikasi diabetes.
Ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, Direktur RSUD Dr. Iskak, Dr. Aini, melalui Kepala Humas RSUD Dr. Iskak, Trise, menyampaikan bahwa pihak keluarga telah menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut rumah sakit. “Itu murni kecelakaan, bukan kesengajaan,” ujar Trise mewakili manajemen RSUD Dr. Iskak.
Namun, berbeda dengan pernyataan resmi rumah sakit, keluarga pasien yang ditemui kontributor kami justru mengaku kecewa dan menuntut pertanggungjawaban atas kelalaian tersebut. Mereka menilai insiden ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan bukti lemahnya pengawasan dan prosedur keselamatan di ruang perawatan.
Dampak bagi Pasien Lain
Insiden ini menimbulkan keresahan di kalangan pasien lain yang sedang menjalani terapi maupun menunggu jadwal operasi. Beberapa pasien mengaku khawatir terhadap standar keamanan alat medis di RSUD Dr. Iskak. Mereka mempertanyakan apakah perawatan yang diberikan benar-benar aman, mengingat kelalaian kecil bisa berujung pada ancaman besar terhadap keselamatan nyawa.
Selain itu, keluarga pasien lain juga menyoroti lemahnya komunikasi rumah sakit. Mereka menilai pihak manajemen terlalu cepat menyebut insiden sebagai “kecelakaan” tanpa evaluasi menyeluruh. Hal ini dikhawatirkan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap RSUD Dr. Iskak sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah Jawa Timur bagian Selatan.
Pelayanan Tak Profesional di Rumah Sakit Bertaraf Internasional
RSUD Dr. Iskak selama ini mengklaim sebagai rumah sakit dengan standar pelayanan bertaraf internasional. Direktur rumah sakit, Dr. Aini, berulang kali menekankan pentingnya profesionalisme tenaga medis dan pelayanan yang aman bagi pasien. Namun, insiden ini justru menunjukkan adanya kesenjangan antara klaim manajemen dan realitas di lapangan.
Kelalaian perawat dalam mengoperasikan alat terapi infra red, serta lemahnya pengawasan terhadap prosedur keselamatan, menjadi bukti bahwa standar profesionalisme belum sepenuhnya dijalankan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar : bagaimana mungkin rumah sakit yang mengusung label internasional masih membiarkan praktik pelayanan yang tidak profesional, hingga mengancam nyawa pasien dan menimbulkan keresahan bagi pasien lain?

Komentar