infopol.co.id Kontak Redaksi- 085784424805 wa Rapat Persiapan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh 2026 dipimpin langsung oleh Gubernur Bali

Iklan Semua Halaman

Iklan 928x90

Hot Post

Rapat Persiapan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh 2026 dipimpin langsung oleh Gubernur Bali

Sabtu, 14 Maret 2026

 


Denpasar, Infopol.co.id| Pemerintah Provinsi Bali bergerak cepat memastikan pelaksanaan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih berlangsung aman, tertib, bersih, dan tetap khusyuk. Gubernur Bali Wayan Koster langsung memimpin rapat koordinasi besar lintas instansi di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Sabtu (14/3/2026), guna mematangkan seluruh persiapan karya agung yang puncaknya jatuh pada Kamis, 2 April 2026, bertepatan dengan Wraspati Wage, Watugunung.


Rapat strategis ini mempertemukan unsur TNI, Polri, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pengelola kawasan suci Besakih, hingga tokoh adat dan pemangku pura. Seluruh pihak sepakat satu hal: karya besar di pusat spiritual umat Hindu dunia itu harus berlangsung tertib tanpa menimbulkan kemacetan, penumpukan pemedek, maupun masalah kebersihan yang selama ini kerap menjadi tantangan.


Gubernur Koster dalam rapat tersebut menegaskan bahwa pengaturan pemedek menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Hal ini dilakukan karena diperkirakan jutaan umat Hindu akan tangkil ke Pura Agung Besakih selama rangkaian karya berlangsung. Menurutnya, tanpa pengaturan yang jelas, potensi penumpukan pemedek dan kemacetan di jalur menuju Besakih sangat besar. Oleh karena itu pemerintah menerbitkan Surat Edaran Gubernur Bali yang secara khusus mengatur rekayasa lalu lintas, jadwal penganyar kabupaten/kota, hingga pengelolaan kebersihan selama karya berlangsung.


Rapat koordinasi tersebut dihadiri Komandan Korem 163/Wirasatya, Karo Ops Polda Bali, Bupati Karangasem, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi Bali, Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Bali.


Selain itu hadir pula Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali, Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Bali, Komandan Kodim 1623/Karangasem, Kapolres Karangasem, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Karangasem, Camat Rendang, Kepala Badan Pengelola Besakih, Perbekel Desa Besakih, Bendesa Adat Besakih, serta Pemucuk Pemangku Pura Agung Besakih.


Rapat berlangsung serius namun konstruktif karena seluruh pihak menyadari bahwa karya Ida Bhatara Turun Kabeh merupakan salah satu upacara terbesar umat Hindu di Bali yang selalu menarik kehadiran pemedek dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri.



Bendesa Adat Besakih Mangku Widiarta yang hadir dalam rapat tersebut menjelaskan bahwa secara spiritual seluruh rangkaian karya sebenarnya sudah berjalan sejak awal Maret. Ia menyebutkan bahwa rangkaian upacara dimulai pada 7 Maret 2026 dengan upacara Negtegang. Setelah itu rangkaian berlanjut dengan berbagai tahapan upacara lain yang merupakan bagian penting dari pelaksanaan karya agung tersebut. Salah satu tahapan penting adalah pelaksanaan Taur Tabur Gentuh yang dijadwalkan pada 18 Maret 2026.


Rangkaian berikutnya adalah Nedunang Ida Bhatara yang akan dilaksanakan pada 30 Maret 2026. Upacara ini kemudian dilanjutkan dengan prosesi Melasti pada 31 Maret menuju Tegal Suci. Setelah itu umat akan melaksanakan upacara Pakelem dan berbagai prosesi lainnya sebelum akhirnya mencapai puncak karya pada 2 April 2026. Mangku Widiarta menjelaskan bahwa setelah puncak karya tersebut, Ida Bhatara akan nyejer selama 21 hari hingga 23 April 2026. Selama masa itu, setiap hari akan dilaksanakan upacara penganyaran oleh umat dari berbagai daerah.


Karena itu, pengaturan pemedek menjadi sangat penting agar pelaksanaan karya tetap berjalan lancar tanpa mengganggu kekhusyukan upacara. Ia mengungkapkan bahwa evaluasi dari karya-karya sebelumnya menunjukkan adanya beberapa persoalan yang harus dibenahi. Salah satunya adalah kemacetan dan penumpukan pemedek di jalur menuju Pura Agung Besakih. Selain itu kawasan sekitar pura juga sering mengalami kepadatan karena banyaknya pedagang, kendaraan, dan aktivitas lainnya yang tidak tertata dengan baik.


Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah bersama panitia karya sepakat menerapkan sistem pengaturan pemedek berdasarkan jadwal penganyar dari masing-masing kabupaten dan kota di Bali. Dengan sistem ini, setiap daerah akan memiliki jadwal tertentu untuk melaksanakan penganyaran sehingga tidak terjadi penumpukan umat pada hari yang sama. Misalnya pada hari tertentu akan dijadwalkan penganyar dari Kota Denpasar, sementara pada hari lain dari Kabupaten Badung, Gianyar, Tabanan, dan daerah lainnya.


Hari kerja juga diatur secara khusus agar pemedek dari kabupaten dan kota dapat datang secara bergiliran. Sementara pada akhir pekan, panitia akan membuka kesempatan lebih luas bagi umat dari luar Bali yang ingin tangkil ke Besakih. Pengaturan ini diharapkan mampu mengurai kepadatan pemedek sekaligus memberikan kenyamanan bagi umat yang ingin bersembahyang. Selain pengaturan pemedek, rapat juga membahas rekayasa lalu lintas menuju kawasan suci Besakih. Dinas Perhubungan bersama aparat kepolisian akan menyiapkan sistem rekayasa lalu lintas agar arus kendaraan tetap lancar.


Salah satu langkah yang disiapkan adalah penentuan lokasi parkir khusus bagi bus rombongan. Bus-bus besar tidak diperkenankan masuk langsung ke kawasan pura. Sebagai gantinya, bus akan diarahkan parkir di kawasan Kedungdung. Dari sana pemedek akan diantar menggunakan kendaraan shuttle yang telah disiapkan panitia. Sementara itu kendaraan kecil akan diarahkan parkir di kawasan Manik Mas yang juga telah disiapkan sebagai kantong parkir.


Langkah ini diambil untuk mengurangi kepadatan kendaraan di sekitar kawasan suci Pura Agung Besakih yang selama ini sering mengalami kemacetan saat karya berlangsung. Selain itu pemerintah juga menyiapkan jalur khusus bagi pemedek yang sudah lanjut usia, anak-anak, serta pemangku yang memiliki keterbatasan mobilitas. Seluruh fasilitas shuttle yang disiapkan tersebut dipastikan tidak dipungut biaya agar umat dapat bersembahyang dengan nyaman tanpa beban tambahan.


Pemucuk Pemangku Pura Agung Besakih, I Gusti Mangku Jana, menjelaskan bahwa rapat yang dipimpin langsung oleh Gubernur Bali tersebut sangat penting untuk memastikan seluruh unsur terlibat dalam pengamanan dan pelayanan kepada umat. Menurutnya, pelaksanaan upacara secara spiritual sebenarnya sudah berjalan sebagaimana mestinya dan tidak menghadapi kendala berarti. Yang menjadi fokus utama adalah bagaimana memberikan kenyamanan bagi umat yang akan tangkil ke Besakih selama rangkaian karya berlangsung.



Ia menegaskan bahwa kenyamanan pemedek menjadi prioritas karena jumlah umat yang datang diperkirakan sangat besar. Oleh karena itu berbagai fasilitas harus dipersiapkan secara matang, mulai dari parkir kendaraan, pengaturan lalu lintas, pelayanan kesehatan, hingga kebersihan lingkungan. Ia juga menyoroti pentingnya pengelolaan sampah selama pelaksanaan karya. Menurutnya, persoalan sampah sering menjadi tantangan besar ketika ribuan hingga jutaan umat berkumpul di satu tempat.


Karena itu melalui surat edaran gubernur, pemerintah menegaskan bahwa setiap pemedek wajib menjaga kebersihan kawasan suci Besakih. Umat diminta untuk tidak membuang sampah sembarangan di sepanjang jalur menuju pura maupun di area sekitar pura. Panitia bahkan mengimbau agar setiap pemedek membawa kembali sampahnya sendiri sehingga kawasan pura tetap bersih dan suci. Langkah ini dianggap lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan petugas kebersihan setelah upacara selesai.


Selain itu pemerintah juga akan menyiagakan petugas kebersihan di berbagai titik strategis untuk memastikan kawasan Besakih tetap terjaga kebersihannya selama karya berlangsung. Dari sisi kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Bali juga akan menyiapkan pos pelayanan kesehatan bagi pemedek. Pos kesehatan ini akan ditempatkan di sejumlah titik untuk memberikan pertolongan pertama bagi umat yang membutuhkan.


Hal ini penting mengingat banyak pemedek yang datang dari berbagai daerah dengan kondisi fisik yang berbeda-beda. Dengan adanya pelayanan kesehatan tersebut diharapkan setiap pemedek dapat menjalankan persembahyangan dengan aman dan nyaman. Unsur pengamanan juga mendapat perhatian serius dalam rapat tersebut. TNI dan Polri akan menyiagakan personel di berbagai titik untuk menjaga keamanan selama karya berlangsung.


Kapolres Karangasem bersama jajaran kepolisian daerah Bali akan bekerja sama dengan Kodim Karangasem serta unsur keamanan lainnya untuk memastikan situasi tetap kondusif. Pengamanan tidak hanya difokuskan pada kawasan pura, tetapi juga di sepanjang jalur menuju Besakih yang diperkirakan akan dipadati kendaraan dan pemedek. Gubernur Wayan Koster dalam arahannya menekankan bahwa karya Ida Bhatara Turun Kabeh bukan sekadar upacara keagamaan biasa, tetapi merupakan peristiwa spiritual besar yang memiliki makna mendalam bagi umat Hindu.


Karena itu seluruh pihak harus bekerja bersama memastikan pelaksanaannya berjalan lancar. Ia juga menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan memberikan dukungan penuh terhadap seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk kelancaran karya. Menurutnya, koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menyukseskan pelaksanaan karya agung tersebut. Koster juga mengingatkan bahwa Pura Agung Besakih merupakan pusat spiritual umat Hindu yang tidak hanya dihormati oleh masyarakat Bali, tetapi juga oleh umat Hindu di seluruh dunia.


Oleh karena itu pelaksanaan karya harus mencerminkan ketertiban, kesucian, serta kedisiplinan masyarakat Bali dalam menjaga warisan budaya dan spiritualnya. Ia berharap dengan adanya pengaturan pemedek secara bergilir, rekayasa lalu lintas yang matang, serta pengelolaan kebersihan yang baik, karya Ida Bhatara Turun Kabeh tahun ini dapat berlangsung lebih tertib dibandingkan sebelumnya. Pemerintah juga berharap umat dapat mengikuti seluruh aturan yang telah ditetapkan demi kelancaran bersama.


Sebab tanpa kesadaran kolektif dari seluruh pemedek, berbagai upaya yang telah dirancang pemerintah tidak akan berjalan maksimal. Dengan berbagai persiapan tersebut, Bali kembali menunjukkan keseriusannya dalam menjaga kesucian dan kelancaran pelaksanaan upacara besar di Pura Agung Besakih. Karya Ida Bhatara Turun Kabeh bukan hanya peristiwa ritual, tetapi juga momentum spiritual yang memperkuat hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Karena itu seluruh masyarakat Bali diharapkan dapat bersama-sama menjaga ketertiban, kebersihan, dan kesucian kawasan suci Besakih selama karya berlangsung. AS Infopol