DENPASAR, BALI, Infopol.co.id – Indonesia tengah memasuki era aging population, di mana jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini menuntut hadirnya kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pelayanan kesehatan, tetapi juga mampu menjamin lansia tetap sehat, mandiri, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang baik.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Warmadewa bersama Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Bali menggelar Focus Group Discussion (FGD) Model Prediktor Partisipasi dan Kualitas Hidup Lansia di Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Bali. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas–Pengujian Model dan Prototipe Tahun Anggaran 2026 yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
FGD dibuka Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, M.For., MARS, dan dihadiri Ketua Tim Peneliti Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, S.IP., M.AP., bersama anggota tim Prof. Dr. I Wayan Eka Mahendra, S.Pd., M.Pd., Dr. Rhesa Anggara Utama, S.IP., S.H., M.Si., jajaran BKKBN Bali, serta mahasiswa Universitas Warmadewa.
Forum tersebut menjadi wadah menghimpun pengalaman lapangan, pandangan para pemangku kepentingan, dan masukan akademisi untuk menyusun model ilmiah yang mampu mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memengaruhi partisipasi serta kualitas hidup lansia.
"Sekolah Lansia bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang agar lansia tetap sehat, aktif, mandiri, produktif, dihargai, dan menjalani masa tua dengan bahagia serta bermakna," ujar Ni Luh Gede Sukardiasih.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah penguatan Sekolah Lansia sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat. Program ini mengembangkan tujuh dimensi Lansia Tangguh, yakni spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional, dan lingkungan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan lansia yang tetap berdaya serta berkontribusi di tengah masyarakat.
Di Bali, implementasi Sekolah Lansia mulai menunjukkan hasil positif. Salah satunya di Ubud yang telah melibatkan 87 peserta, mencerminkan tingginya kebutuhan lansia terhadap ruang belajar, interaksi sosial, dan aktivitas yang bermakna.
Ketua Tim Peneliti, Dr. Anak Agung Putu Sugiantiningsih, menegaskan bahwa riset ini tidak berhenti pada tataran akademik.
"Hilirisasi riset harus menghasilkan model yang dapat dipakai pemerintah dan masyarakat. Karena itu, kami membutuhkan masukan langsung dari para pemangku kepentingan agar faktor partisipasi lansia, dukungan keluarga, kelembagaan, hingga keberlanjutan program dapat dipetakan secara utuh," ujarnya.
Selain mendorong penguatan Sekolah Lansia, penelitian juga menempatkan keluarga sebagai pilar utama melalui penguatan Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL). Pendampingan keluarga dinilai menjadi kunci dalam menjaga kesehatan, pemenuhan gizi, kesejahteraan psikologis, hingga mempertahankan kemandirian lansia.
Menariknya, riset ini juga mengajak mahasiswa terlibat langsung melalui program Mahasiswa Berdampak. Mahasiswa lintas disiplin diharapkan dapat berkontribusi dalam edukasi kesehatan, aktivitas fisik, literasi digital, pendampingan psikososial, hingga kegiatan sosial bagi lansia.
Hasil FGD memperkuat arah penyusunan model prediktor yang menempatkan kesehatan fisik dan mental, partisipasi sosial, dukungan keluarga, lingkungan, spiritualitas, kemandirian, serta keberlanjutan kelembagaan sebagai indikator utama kualitas hidup lansia.
Ke depan, model tersebut akan disempurnakan dan diuji sebagai dasar rekomendasi kebijakan pemerintah daerah dan desa dalam menghadapi meningkatnya populasi lansia di Indonesia.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, Universitas Warmadewa berharap hasil riset ini tidak hanya menjadi publikasi ilmiah, tetapi benar-benar melahirkan model kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan lansia secara berkelanjutan.

Komentar