Infopol.co.id
Wartawan: Ibu Rikha, Anda kembali menulis "Surat Cinta ke-3 untuk Pemimpin Negeri" dengan tema "Warisan Terindah Seorang Pemimpin Adalah Keadilan." Apa yang melatarbelakangi surat ini?
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Surat ini lahir dari kepedulian saya sebagai warga negara sekaligus advokat. Saya percaya Indonesia adalah negara hukum, sehingga setiap pemimpin memiliki amanah konstitusional untuk memastikan keadilan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat, tanpa membedakan status sosial, jabatan, maupun latar belakang.
Wartawan: Mengapa Ibu memilih istilah "Surat Cinta", bukan "Surat Kritik"?
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Karena saya menulis dengan rasa cinta kepada Indonesia. Kritik yang disampaikan dengan santun adalah bagian dari kepedulian. Saya ingin menyampaikan harapan, bukan permusuhan. Saya yakin setiap pemimpin memiliki niat baik, dan surat ini adalah pengingat bahwa rakyat masih menaruh harapan besar kepada negara.
Wartawan: Dalam surat tersebut Ibu menulis bahwa rakyat tidak meminta perlakuan istimewa. Apa maksudnya?
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Betul. Rakyat tidak meminta hukum berpihak kepada mereka. Yang mereka inginkan hanyalah hukum ditegakkan secara adil, objektif, dan tidak dipengaruhi oleh kekuasaan ataupun kepentingan tertentu. Itulah esensi negara hukum yang diamanatkan oleh konstitusi.
Wartawan: Ibu juga menyinggung masih adanya keluarga yang menunggu keadilan. Mengapa hal itu menjadi perhatian Ibu?
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Karena di balik setiap perkara hukum ada manusia dan keluarga. Ada orang tua yang kehilangan anak, ada keluarga yang menunggu kepastian hukum, dan ada masyarakat kecil yang berharap negara hadir melalui proses hukum yang adil. Sebagai advokat, saya melihat bahwa keadilan bukan hanya soal putusan, tetapi juga tentang proses yang profesional, transparan, dan menghormati hak setiap orang.
Wartawan: Apa pesan utama yang ingin Ibu sampaikan kepada para pemimpin negeri?
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mau mendengar, berani mengevaluasi, dan berani memperbaiki ketika diperlukan. Kepercayaan rakyat tidak lahir dari pidato, melainkan dari kehadiran keadilan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Wartawan: Menurut Ibu, apa warisan terbesar seorang pemimpin?
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah lamanya memegang jabatan atau besarnya kekuasaan yang pernah dimiliki. Warisan terbesar adalah keberanian menghadirkan keadilan, menjaga kepercayaan rakyat, dan meninggalkan sistem yang lebih baik bagi generasi berikutnya. Itulah warisan yang akan dikenang sejarah.
Wartawan: Terakhir, apa harapan Ibu pada momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81?
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Saya berharap tema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" benar-benar diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga setiap warga negara merasakan perlindungan hukum, memperoleh kepastian hukum, dan diperlakukan setara di hadapan hukum. Sebab kemuliaan sebuah bangsa akan selalu diukur dari cara negara memperlakukan rakyatnya, terutama mereka yang paling membutuhkan perlindungan.
Wartawan: Terima kasih atas waktunya, Ibu Rikha.
Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari:
Terima kasih. Semoga Indonesia senantiasa menjadi negara yang semakin berdaulat, semakin adil, semakin makmur, dan selalu menjadikan keadilan sebagai warisan terbaik bagi generasi mendatang.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka!
"Team M7"

Komentar