Situbondo | infopol.co.id - Kelarnya pelaksanaan proyek peningkatan/ rekonstruksi jalan ruas Sumber Anyar - Alas Bayur (BWH) (R108) Kecamatan Mlandingan Kabupaten Situbondo masih menyisakan pertanyaan besar bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Akan Buat Warga Situbondo (Abunawas). Dugaan kurangnya ketebalan aspal dan tidak dipergunakannya peralatan sesuai standart pengaspalan pun menjadi sorotan mereka, (Kamis, 05/12/2024).
Proyek jalan hotmix menuju Dusun Bayur Bawah Desa Alas Bayur di Kecamatan Mlandingan saat ini disorot oleh LSM Abunawas Situbondo. Dugaan kurangnya ketebalannya pada pelaksanaan pengaspalan menjadi pertanyaan besar. Selain itu, informasi yang beredar di kalangan para kontraktor di Kabupaten yang bertajuk Kota Santri Pancasila tersebut, diduga pula pelaksana proyek bukanlah pihak ke-3 seperti tercantum di papan informasi kegiatan.
"Kami sempat turun ke lokasi, cek kondisi jalan tersebut. Kalau dilihat, ya tidak ada kejanggalan apapun, tapi setelah kami cek ketebalannya, sepertinya tidak sesuai standart spek ketebalan untuk jalan kelas Kabupaten, kecuali kalau itu (jalan) masuk kelas jalan Desa," beber Hartono saat dikonfirmasi.
Proyek hotmix yang anggarannya bersumber dari DAK tahun 2024 dengan nilai hampir 1 milyar Itu, lanjut Hartono, diduga pula tidak dikerjakan oleh CV berinisial SG seperti tercantum pada papan informasi.
"Info yang beredar, itu pelaksananya kan bukan CV SGS, tapi cuman di pinjam bendera oleh salah satu oknum ASN. Sebenarnya tidak ada masalah, cuman kalau hasil pekerjaannya ternyata tidak sesuai kan merugikan juga. Merugikan yang punya CV juga masyarakat selaku pengguna jalan. Belum lagi peralatan yang dipergunakan, diduga tidak sesuai spek kelas jalan. Di lokasi, kami cuman menemukan peralatan wales kecil dan itu tidak sesuai dengan standart pengaspalan hotmix pada umumnya. Kalau hasilnya, dari jauh kelihatan bagus, coba dari dekat, kelihatan asal jadi. Jangan aspek keindahan saja yang ditonjolkan, kwalitas dan kuantitas hasil pekerjaan juga harus di nomor satukan," lanjut Hartono.
"Kami meminta supaya pihak PU Situbondo untuk mengkaji ulang ketebalan aspal pada proyek peningkatan ruas jalan tersebut. Kalau perlu test core drillnya menghadirkan elemen masyarakat juga. Supaya tidak ada yang dirugikan. Kalau sampai permintaan kami tidak digubris, pastinya akan kami laporkan ke Kejaksaan Negeri Situbondo, liat aja," pungkasnya.
Seperti diketahui, Klasifikasi Jalan: Jalan Kabupaten: Ketebalan aspal minimum 5 cm, dengan struktur perkerasan yang memadai untuk lalu lintas lokall, sedang Jalan Desa: Ketebalan aspal minimum 2 cm, dengan struktur perkerasan yang lebih sederhana dan disesuaikan dengan kondisi setempat. Dengan jenis konstruksi yang menyesuaikan, seperti pada Aspal Beton (AC): dengan ketebalan aspal minimum 4 cm, dengan lapisan atas (wearing course) dan lapisan bawah (base course) yang terpisah. Untuk Lapisan Penetrasi Makadam (LPM): Ketebalan aspal minimum 3 cm, dengan agregat kasar yang dilapisi aspal cair dan Lapisan Penetrasi Makadam Aspal Beton (LPMB): Ketebalan aspal minimum 2 cm, kombinasi dari LPM dan AC tipis.
Jurnalis; Fer/ Red (bersambung)

Komentar

