BANYUWANGI, Infopol.co.id - Sinergitas antara elemen masyarakat dan institusi kepolisian menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas keamanan dan keharmonisan sosial di Banyuwangi. Kolaborasi itu tercermin dari hubungan erat antara Rumah Kebangsaan (RK) Banyuwangi yang di ketuai Hakim Said, S.H. dengan Polresta Banyuwangi di bawah kepemimpinan Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H.
Selama sekitar 1,3 tahun memimpin Polresta Banyuwangi, Rama Samtama Putra dikenal mengedepankan pendekatan humanis, dialogis, dan inklusif. Pendekatan tersebut sejalan dengan visi Rumah Kebangsaan Banyuwangi yang bergerak secara kultural sebagai ruang perjumpaan lintas elemen, lintas organisasi, dan lintas keyakinsn.
RK Banyuwangi tidak hanya menjadi ruang diskusi kebangsaan, tetapi juga berperan aktif sebagai penguat toleransi lintas agama. Forum dialog antarumat beragama, kegiatan kebangsaan, serta ruang musyawarah lintas komunitas menjadi bagian dari kerja kultural RK Banyuwangi dalam merawat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Blambangan.
Sinergi antara RK Banyuwangi dan Polresta Banyuwangi terbangun bukan sebatas hubungan kelembagaan, melainkan relasi kemitraan yang cair. Polresta kerap hadir dalam kegiatan kebangsaan dan sosial yang digagas Rumah Kebangsaan, sementara RK berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan aparat kepolisian.
Ketua Rumah Kebangsaan Banyuwangi, Hakim Said, S.H., menilai gaya kepemimpinan Rama Samtama Putra mampu menghadirkan wajah Polri yang tegas namun tetap membumi.
“Beliau tidak menjaga jarak dengan masyarakat. Pak Rama hadir sebagai pemimpin yang mau mendengar, berdialog, dan merangkul. Bagi kami di Rumah Kebangsaan, ini bukan sekadar hubungan dengan institusi Polri, tetapi kerja bersama menjaga Banyuwangi tetap rukun dan damai,” ujar Hakim Said, kepada awak media, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, pendekatan yang dikedepankan Polresta Banyuwangi membuat ruang-ruang dialog sosial dan keagamaan tumbuh sehat, sekaligus menekan potensi gesekan di masyarakat.
“Penegakan hukum tetap berjalan, tetapi dengan sentuhan kemanusiaan. Itu yang membuat masyarakat merasa aman sekaligus dihargai,” tambahnya.
Sementara itu, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra menyampaikan pandangannya saat terakhir berdiskusi dan bersilaturahmi di Rumah Kebangsaan Banyuwangi, menjelang kepindahannya ke Polda Papua. Dalam suasana dialog yang hangat dan terbuka tersebut, Rama menegaskan bahwa keberhasilan menjaga situasi kamtibmas di Banyuwangi tidak mungkin dicapai tanpa keterlibatan aktif masyarakat dan organisasi sosial.
“Keamanan tidak bisa dibangun oleh Polri sendiri. Kami sangat terbantu oleh elemen masyarakat, termasuk Rumah Kebangsaan Banyuwangi, yang konsisten menjadi ruang dialog, penyejuk, dan perekat kebangsaan,” kata Rama.
Ia menekankan bahwa pendekatan kolaboratif dan lintas sektoral menjadi kunci agar Polri tetap dipercaya publik.
“Polisi harus hadir bukan hanya saat ada masalah, tetapi juga dalam proses merawat kebersamaan. Itulah yang kami upayakan selama bertugas di Banyuwangi,” tegasnya.
Selama masa kepemimpinannya, Polresta Banyuwangi menguatkan program pelayanan publik, pendekatan preemtif dan preventif, serta komunikasi sosial yang intens dengan tokoh agama, tokoh adat, dan komunitas lintas iman. Interaksi langsung melalui program Wadul Kapolresta berbasis WhatsApp turut memperkuat kedekatan polisi dengan masyarakat. Situasi kamtibmas yang relatif kondusif selama periode tersebut menjadi indikator keberhasilan sinergi kultural dan struktural yang terbangun.
Kini, setelah menuntaskan masa tugasnya di Bumi Blambangan, Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H. mendapat amanah baru sebagai Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Papua. Penugasan ini menjadi bentuk kepercayaan institusi Polri atas rekam jejak dan kapasitas kepemimpinannya.
Meski telah berpindah tugas ke Bumi Cenderawasih, jejak kepemimpinannya di Banyuwangi masih terasa kuat. Bahkan, di kalangan masyarakat, Banyuwangi masih “sosok” Kapolresta seperti Rama Samtama Putra, figur pemimpin kepolisian yang tegas, komunikatif, dan menyatu dengan masyarakat.
Tidak sedikit warga yang mengaku belum sepenuhnya move on atas kepindahannya. Bukan karena kehilangan jabatan, melainkan karena pernah merasakan kehadiran seorang Kapolresta yang bekerja dengan hati, merawat keberagaman, serta menjadikan sinergi lintas agama dan lintas elemen sebagai fondasi utama keamanan. (HR/Red)

Komentar




