MALANG, Infopol.co.id – Kita hidup di zaman ketika sesuatu dianggap bernilai bukan karena maknanya, tetapi karena seberapa cepat ia viral. Apa yang ramai di media sosial seolah otomatis menjadi penting, sementara yang sunyi perlahan dianggap usang. Di titik inilah budaya lokal, tradisi, dan kearifan yang tumbuh pelan-pelan mulai terasing di tanahnya sendiri
Hal ini terjadi pasca perdebatan saling adu argumen antara dua kubu sesama pengelola lokasi wisata dibantaran sungai glidik. tepatnya perbatasan kabupaten Malang-Lumajang jawa timur, nampaknya hal tersebut jadi sorotan serius publik.
Pasalnya dari beberapa video perdebatan saling beradu argumen tersebut sempat beredar viral dan bahkan juga terbit pada beberapa media online.
Menurut Rohim pengelola wisata coban sewu mengatakan, jika debat
pengelola wisata coban sewu dan tumpak sewu dibantaran sungai glidik, pada Senin 09 Januari 2026 siang menjadi sorotan tajam publik.
Munculnya kabar berita dari salah satu media online pasca pertemuan dua kubu dari pengelola tempat wisata tumpak sewu dengan coban sewu pada hari Senin 9 Januari 2026 siang. Rohim selaku owner dari pengelola wisata coban sewu membantah atas munculnya pemberitaan tersebut, jika 100% tidaklah benar semua.
Pasalnya menurut Rohim, selain kabar berita tersebut tak sesuai fakta, menurutnya juga menjastis dirinya bersalah dan seakan tidak faham peraturan undang-undang negara Republik Indonesia. bahkan terkesan dirinyalah penyebab atas terjadinya perseteruan dibantaran sungai wisata yang tak asing bagi wisatawan lokal hingga wisatawan mancanegara tersebut.
Rohim juga menyatakan, jika ia sama sekali tidak mengharapkan adanya perdebatan antar sesama pengelola wisata. Melainkan tujuan utamanya tak lain hanya ingin menindaklanjuti aktivitas kerjanya sebagai owner yang taat peraturan. Dimana aktivitas kerjanya tersebut sempat terhenti karena diusik dan juga masih menunggu pengurusan surat ijin.
"Gak seperti itu beritanya, awal kita rapat diatas menindaklanjuti surat edaran tanggal 19 itu dan rapatpun dipimpin pak danramil. Saat rapat ada perangkat desa, Bumdes pihak Polsek, Koramil, Polres juga satpol PP, kita gak ngawur melangkah sendiri mas. setelah itu kita turun kebawah ketemu mereka (tim pengelola wisata tumpak sewu,red.) bukannya koordinasi baik baik, malah melarang kita dan ngajak debat,"Ujar Rohim, kepada awak media, Selasa, (20/01/2026) siang.
Masih menurutnya, terjadinya perdebatan karena pihak pengelola dari wisata tumpak sewu melarang Rohim, owner wisata coban sewu yang berniatan ingin melanjutkan aktivitas pekerjaannya. karena ijin sudah turun, dan tanpa disadari malah dilarang dan terjadi debat saling claim dan saling lempar pertanyaan hingga berujung adu argumen.
"Kita masih koordinasi dibawah itu, belum melakukan aktivitas ticketing, dan sebelumnya kita juga sudah koordinasi ke pihak - pihak terkait mas. Malah di bilang pungli, langgar aturan, tabrak kesepakatan dan lain sebagainya, kita yang ada ijin dilarang kerja, surat ijin kitapun ditanya ya saya tunjukkan semua. Anehnya pas giliran kita tanyakan ijin, jawabnya ngegas gak usah ngurus bote'ane (dapur,red.) orang"
"Jika bahas ingkari kesepakatan, itu kan sebelum ijin kita turun kalau gak salah tahun 2024 itu. dan kesepakatan itu gak mengikat. dan yang perlu difahami lagi dalam kesepakatan itu, tanda tangannya siapa saja, kepala Bumdes dan kepala desa kan gak tanda tangan. dan rencana ticketing juga sudah koordinasi dan lokasinya diareal sah ijinnya, hak kita mau aktivitas apa saja. Penting kita CV ditunjuk oleh Bumdes sebagai pengelola mengacu ke perijinan,"imbuhnya.
Disisi lain Danramil 0818/17 Kodim Kabupaten Malang, Kapten. Arh A. Zainuri, dikonfirmasi atas kejadian tersebut pihaknya menjelaskan jika pihaknya cuma memberi gambaran saja.
"Intinya kemarin itu saya hanya memberikan gambaran kepada seluruh rekan-rekan tentang kondisi yang terjadi selama ini. Maaf nanti mas saya telpon, saya masih meeting di Kodim seluruh Danramil diambil Dandim,"Jelas Kapten Zainuri singkat melalui via WhatsApp, Selasa (20/01/2026) sore.
Sementara Firmando H. Matondang, kepala Dinas pariwisata dan kebudayaan kabupaten Malang saat dikonfirmasi atas kejadian di bantaran sungai glidik wisata dengan sebutan niagaranya Indonesia itu, hingga berita ini diterbitkan pihaknya belum memberikan keterangan maupun respon.
Bersambung..!!

Komentar
